Notification

×

Iklan

Iklan

Rekor Terburuk! Indonesia Tersingkir di Fase Grup Piala Thomas 2026

Kamis, 30 April 2026 | April 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-30T12:29:10Z

 

Tim Thomas Indonesia yang gagal melangkah ke babak selanjutnya. (Ist)


TARSIUSNEWS.COM - Target tinggi Tim Thomas Indonesia untuk menembus babak final justru berujung kekecewaan. Tim Merah Putih tersingkir di fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis pada laga penentu Grup D, Rabu (29/4/2026) dini hari.


Hasil ini menjadi catatan terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia di Piala Thomas sejak 1958. Padahal, Indonesia datang sebagai unggulan kedua di bawah China.


Pengamat bulu tangkis nasional, Daryadi, menilai kegagalan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal undian. 


Indonesia dinilai berada di grup paling berat bersama Thailand dan Prancis.


“Sejak awal saya melihat ini grup neraka. Kekuatan tiga negara ini berimbang, dan itu terbukti di lapangan,” ujarnya.


Ia menyoroti kemenangan tipis 3-2 atas Thailand sebagai tanda awal rapuhnya performa tim. Kondisi itu berlanjut saat menghadapi Prancis, di mana Indonesia kalah telak 1-4.


Padahal, jika hanya kalah 2-3, Indonesia masih berpeluang lolos sebagai runner-up.


Masalah Regenerasi Jadi Sorotan


Menurut Daryadi, kebangkitan Prancis memang patut diakui, terutama di sektor tunggal yang diperkuat pemain muda berbakat. Namun, persoalan utama Indonesia justru ada pada stagnasi regenerasi.


Ia menilai terdapat kesenjangan besar antara pemain senior seperti Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting dengan pemain muda di bawahnya.


“Terjadi semacam generasi hilang. Jaraknya terlalu jauh, hampir 10 tahun,” ujarnya.


Kondisi ini membuat Indonesia masih bergantung pada pemain senior tanpa dukungan kuat dari generasi penerus.


Mental dan Tekanan Jadi Faktor


Di sektor ganda putra, peluang meraih poin juga gagal dimanfaatkan. Pasangan Sabar/Reza yang secara peringkat lebih unggul justru tampil di bawah tekanan.


“Secara kualitas mereka seharusnya bisa menang. Tapi faktor mental sangat berpengaruh, apalagi dalam pertandingan beregu,” jelas Daryadi.


Situasi makin sulit ketika Indonesia tertinggal 0-3, yang membuat beban psikologis pemain semakin berat.


Evaluasi Total Dibutuhkan


Selain faktor pemain, Daryadi menilai perlu ada evaluasi menyeluruh dari sisi kepelatihan. Ia mendorong adanya inovasi agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain.


Kegagalan ini menjadi peringatan keras bagi PBSI untuk segera berbenah, apalagi di bawah kepemimpinan Muhammad Fadil Imran yang menargetkan dua medali emas di Olimpiade 2028.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update