![]() |
| Ilustrasi nilai tukar dolar dan rupiah. (Ai) |
TARSIUSNEWS.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (3/6/2026) memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya biaya impor dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah menguatnya dolar AS yang didorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak yang bertahan di level tinggi dipicu ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan Iran, Israel, dan mandeknya perundingan antara Iran dengan Amerika Serikat.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak global tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga berdampak langsung terhadap pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurutnya, tingginya harga minyak membuat kebutuhan dolar AS untuk impor energi meningkat. Pada saat yang sama, permintaan dolar juga bertambah untuk kebutuhan pembayaran dividen perusahaan dan pelunasan utang luar negeri.
“Ketika permintaan dolar meningkat, sementara pasokan terbatas, maka tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar,” ujarnya.
Selain faktor eksternal, pergeseran preferensi sebagian pelaku usaha dan investor ke aset berbasis dolar AS turut memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga berbagai barang yang masih bergantung pada bahan baku maupun produk impor. Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama, biaya produksi dapat meningkat dan pada akhirnya berdampak pada harga jual kepada konsumen.
Meski demikian, Ibrahim menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan sektor riil, peningkatan investasi, serta menjaga daya beli masyarakat.
Ia menekankan pentingnya percepatan industrialisasi, pengembangan ekonomi maritim atau ekonomi biru, serta penguatan sektor pertanian guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Selain itu, transformasi digital dan penyederhanaan regulasi investasi juga dinilai menjadi langkah penting untuk menarik lebih banyak investasi asing dan memperkuat cadangan devisa nasional.
Menurutnya, ketahanan ekonomi domestik akan menjadi faktor utama dalam menghadapi gejolak global yang diperkirakan masih berlangsung sepanjang tahun 2026.
Dengan berbagai tekanan eksternal yang masih membayangi, stabilitas rupiah kini tidak hanya bergantung pada kondisi pasar keuangan global, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor di dalam negeri.



