Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Ditutup Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik

Jumat, 15 Mei 2026 | Mei 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-15T13:14:37Z

Foto Rupiah. (Ist)


TARSIUSNEWS.COM - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.596 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 68 poin atau sekitar 0,39 persen dibanding perdagangan sebelumnya.


Pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik global, khususnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat.


Tekanan tidak hanya dirasakan rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.


Won Korea Selatan tercatat melemah 0,47 persen, baht Thailand turun 0,63 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,51 persen, sementara yuan China melemah 0,23 persen. Dolar Singapura dan yen Jepang juga ikut tertekan.


Di pasar negara maju, tekanan terhadap mata uang utama juga terlihat. Dolar Australia melemah 0,86 persen, poundsterling Inggris turun 0,42 persen, dan euro Eropa terkoreksi 0,29 persen.


Analis pasar uang Lukman Leong mengatakan penguatan dolar AS dipicu naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan lonjakan harga minyak mentah dunia.


Menurutnya, pasar masih merespons ketidakpastian geopolitik meski sebelumnya sempat muncul harapan meredanya ketegangan global usai pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.


“Pasar masih khawatir konflik Iran-AS belum benar-benar mereda sehingga mendorong penguatan dolar AS,” ujar Lukman.


Ia menilai mata uang Asia, termasuk rupiah, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tekanan tersebut karena tingginya sensitivitas investor terhadap risiko global.


Kenaikan harga minyak dunia juga memperbesar tekanan terhadap negara-negara importir energi, termasuk Indonesia. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi dan memburuknya neraca perdagangan apabila tren berlangsung dalam waktu panjang.


Pelaku pasar kini menantikan perkembangan lanjutan situasi geopolitik Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang masih menjadi faktor utama penggerak pasar keuangan global.


TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update