![]() |
| Wamenkomdigi. (Ist) |
TARSIUSNEWS.COM - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai krisis yang tengah dihadapi industri media nasional kini telah berkembang menjadi persoalan serius yang menyangkut kualitas informasi publik dan masa depan demokrasi digital.
Menurut Nezar, tekanan terhadap perusahaan pers tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan bisnis semata, melainkan juga berdampak pada integritas informasi yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
Hal itu disampaikan Nezar saat menerima audiensi manajemen Saburai TV di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah lanskap industri media secara drastis.
Meski mendirikan media kini semakin mudah, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan media untuk bertahan secara ekonomi di tengah perubahan pola konsumsi informasi.
“Saat ini membuat media itu mudah, yang susah itu jualnya. Semua orang bisa bikin media, tetapi belum tentu mampu bertahan dan sustainable,” ujar Nezar.
Menurutnya, hampir seluruh perusahaan media saat ini masih berupaya mencari model bisnis baru yang dapat menopang keberlangsungan industri di tengah dominasi platform digital global.
Nezar juga menyoroti dampak penggunaan fitur AI pada mesin pencari digital yang disebut memicu penurunan trafik media secara signifikan.
Berdasarkan laporan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), sejumlah perusahaan media mengalami penurunan kunjungan hingga berkali-kali lipat.
Penurunan trafik tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan perusahaan media yang selama ini bergantung pada iklan digital dan jumlah pembaca.
Akibat kondisi tersebut, banyak perusahaan media melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.
“Ada media yang biasanya memperoleh puluhan juta page views per hari, sekarang turun hampir sepuluh kali lipat. Ketika traffic turun, revenue ikut turun dan akhirnya perusahaan melakukan pengendalian biaya,” katanya.
Nezar menilai kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan internal perusahaan media semata.
Ia mengingatkan bahwa melemahnya media arus utama dapat membuka ruang lebih besar bagi penyebaran disinformasi dan manipulasi informasi di ruang digital.
Menurutnya, apabila media kredibel terus melemah, masyarakat berpotensi lebih banyak menerima informasi dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita tidak bisa membiarkan informasi publik hanya dikendalikan platform atau buzzer yang kualitas informasinya tidak jelas. Information integrity menjadi taruhan,” tegasnya.
Sebagai langkah menjaga keseimbangan ekosistem informasi, pemerintah terus mendorong kolaborasi dengan perusahaan media, termasuk media lokal.
Salah satu kebijakan yang saat ini didorong pemerintah ialah implementasi Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Publisher Rights yang bertujuan menciptakan hubungan lebih adil antara perusahaan media dan platform digital.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap media memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi dominasi platform teknologi global.
Nezar memastikan Kemkomdigi akan terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai perusahaan media demi menjaga kualitas informasi publik yang sehat, kredibel, dan bertanggung jawab di era transformasi digital.



