![]() |
| Presiden Prabowo saat berpidato. (BPMI Setpres) |
TARSIUSNEWS.COM - Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menuai sorotan dari kalangan ekonom. Sejumlah pengamat menilai respons pemerintah yang terkesan santai justru berpotensi memengaruhi kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.
Komentar tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur. Dalam pidatonya, ia menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari sehingga tidak terlalu terdampak langsung oleh pelemahan rupiah.
Pernyataan itu muncul di tengah nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026.
Meski pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, sejumlah pengamat melihat persoalan nilai tukar tidak sesederhana penggunaan dolar secara langsung oleh masyarakat.
Analis ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menilai pelemahan rupiah tetap berdampak pada kehidupan masyarakat desa karena banyak kebutuhan pokok dan sektor produksi bergantung pada bahan impor.
Menurutnya, pupuk, bahan bakar, obat-obatan, pakan ternak, hingga mesin pertanian memiliki keterkaitan dengan kurs dolar. Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat masyarakat.
“Dalam ekonomi, masyarakat kecil sering kali tidak langsung melihat gejolak kurs, tetapi paling cepat merasakan dampak kenaikan harga,” ujarnya.
Sorotan serupa juga disampaikan pengamat ekonomi Yanuar Rizky. Ia menilai pernyataan Presiden berpotensi menimbulkan persepsi bahwa pemerintah kurang menunjukkan urgensi dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Menurutnya, pasar keuangan tidak hanya melihat data ekonomi, tetapi juga membaca cara pemerintah merespons situasi. Sikap yang dianggap meremehkan persoalan dikhawatirkan dapat memicu menurunnya kepercayaan investor.
Selain tekanan nilai tukar, para ekonom juga menyoroti kondisi fiskal pemerintah yang dinilai semakin berat akibat defisit anggaran dan tingginya belanja negara untuk program prioritas nasional.
Situasi tersebut disebut ikut memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah, terutama ketika lembaga pemeringkat internasional mulai memberikan pandangan negatif terhadap kebijakan fiskal Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis kondisi ekonomi nasional masih terkendali. Presiden Prabowo menegaskan sektor pangan dan energi Indonesia masih dalam kondisi aman dibanding sejumlah negara lain yang tengah mengalami tekanan ekonomi global.
Namun para pengamat mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi bukan hanya soal data makro, melainkan juga soal menjaga kepercayaan publik dan pasar terhadap arah kebijakan pemerintah.
Source: BBC News



