Notification

×

Iklan

Iklan

Pernah Roboh dan Terendam Banjir, Kini Sekolah di Bali Berubah

Sabtu, 03 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-03T01:57:46Z

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat meninjau sekolah yang direvitalisasi. (Ist)

 TARSIUSNEWS.COM — Suasana belajar di dua satuan pendidikan di Bali berubah setelah mendapatkan program revitalisasi pada 2026. Sebelumnya, kondisi bangunan sekolah menjadi tantangan bagi guru dan murid, mulai dari ruang kelas yang pernah roboh hingga lingkungan sekolah yang rutin terendam banjir.


Salah satunya dirasakan di SD Negeri 15 Dangin Puri, Kota Denpasar. Sebelum direvitalisasi, sekolah tersebut pernah mengalami kejadian ruang kelas di lantai tiga roboh akibat kondisi bangunan yang terdampak hujan dan angin.


Guru SD Negeri 15 Dangin Puri, Ni Gusti Ayu Trisna Dewi, yang mengajar sejak 2019, mengatakan kondisi tersebut menjadi bagian dari tantangan sekolah sebelum memperoleh program revitalisasi pada 2026.


“Sebelum direvitalisasi, kebetulan di lantai 3 ada kelas yang roboh pada saat itu. Kebetulan mungkin hujan angin, jadi mungkin rembes dari atas, jadi roboh kelasnya,” ujar Trisna di Kota Denpasar.


Setelah proses revitalisasi, kondisi ruang kelas dan toilet menjadi lebih baik. Lingkungan belajar juga terlihat lebih rapi dan bersih sehingga memberikan suasana berbeda bagi murid.


“Lalu setelah direvitalisasi, kelas yang roboh akhirnya sudah baik. Jadi kelas-kelas juga lebih rapi, lebih bersih juga,” katanya.


Menurut Trisna, perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari kondisi fisik bangunan. Semangat murid dalam mengikuti pembelajaran juga ikut meningkat. Bahkan, para siswa mulai berinisiatif memperindah ruang kelas menggunakan hasil karya mereka sendiri.


“Dampaknya justru pastinya untuk proses belajar-mengajar pasti akan lebih bagus. Kelihatan kelasnya juga lebih bagus, lebih rapi. Anak-anak juga lebih semangat buat belajar, karena lingkungannya, tempat dia untuk proses belajar-mengajarnya jauh lebih rapi, lebih bersih,” tuturnya.


Perubahan itu turut dirasakan Kanaya, salah satu murid kelas V SDN 15 Dangin Puri. Ia mengaku semakin bersemangat mengikuti kegiatan belajar bersama teman-temannya.


“Sekolah kami telah diperbaiki, kami merasa sangat senang, semakin semangat untuk belajar bersama teman-teman di sekolah. Terima kasih Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Menteri Abdul Mu’ti,” ucap Kanaya.


Kondisi berbeda sebelumnya dialami TK Indraprasta Kuta, Kabupaten Badung. Sekolah yang berdiri sejak 1975 dan kemudian dipindahkan ke lokasi saat ini pada 1989 tersebut telah lama menghadapi persoalan kondisi bangunan.


Sebelum memperoleh program revitalisasi 2026, sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan. Atap sekolah banyak yang bocor, dinding mulai rapuh, sementara kusen mengalami kerusakan akibat rayap dan banjir.


Kepala TK Indraprasta Kuta, Wayan Leniasih, mengatakan sekolah tersebut sudah lama membutuhkan perbaikan.


“Kondisi TK Indraprasta Kuta sebelum mendapatkan program revitalisasi tahun 2026, kondisinya sangat miris karena ini berdiri sejak tahun 1975, terus dipindahkan ke sini pada tahun 1989. Dari situlah bangunan kami tidak pernah direnovasi dan kondisinya banyak atap yang bocor, dinding juga sudah rapuh,” kata Wayan saat ditemui di Kabupaten Badung, Jumat (2/10).


Melalui program revitalisasi tersebut, TK Indraprasta Kuta mendapatkan rehabilitasi terhadap enam ruang kelas, satu ruang administrasi, satu toilet, serta penataan taman bermain yang sebelumnya roboh dan terdampak banjir.


Persoalan banjir menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi sekolah tersebut. Menurut Wayan, banjir dapat terjadi dua kali dalam setahun dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.


“Kusen-kusen dimakan rayap setelah banjir. Dua kali setahun banjir sampai sebatas pinggang orang dewasa. Jadi banyak yang rusak sehingga solusinya pun belum ditemukan sampai saat ini,” ujarnya.


Kini, setelah mendapatkan perbaikan, pihak sekolah berkomitmen menjaga fasilitas yang telah diberikan, termasuk bangunan serta perabotan yang tersedia.


“Kami berjanji akan menjaga dan merawat fasilitas ini yang sudah diberikan berupa rehab beserta perabotan-perabotannya. Kami di sini semua sepakat, semua berkomitmen untuk menjaga dan merawat,” lanjut Wayan.


Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan peningkatan program revitalisasi di Bali merupakan bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kualitas sarana pendidikan di berbagai daerah.


Menurut Abdul Mu’ti, jumlah satuan pendidikan yang mendapatkan program revitalisasi di Bali meningkat pada 2026.


“Tahun 2025 terdapat 188 sekolah, kemudian pada 2026 ada peningkatan yang sangat signifikan untuk revitalisasi di Provinsi Bali. Untuk satuan pendidikan secara keseluruhan ada 401 sekolah,” ujar Abdul Mu’ti, Jumat (2/10).


Ia juga menilai pelaksanaan revitalisasi memberikan dampak lain bagi masyarakat di daerah, khususnya melalui penyerapan tenaga kerja selama proses pengerjaan.


“Ini menunjukkan bahwa Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan satuan pendidikan, tapi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja di daerah,” tuturnya.


Bagi sekolah dan para siswa, revitalisasi tersebut bukan sekadar perubahan tampilan bangunan. Ruang belajar yang lebih layak menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, bersih dan nyaman bagi proses belajar-mengajar.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update