Keterbatasan sederhana ternyata bisa berdampak besar bagi seorang pelajar. Hal inilah yang dialami oleh Faith Easter Alexchandarina Darongke yang harus menghentikan aktivitas sekolahnya hanya karena tidak memiliki seragam.
Selama hampir satu bulan, ia tidak dapat mengikuti pelajaran seperti biasa. Seragam sekolah yang hilang saat dijemur membuatnya tak punya pilihan lain selain tinggal di rumah.
Dalam kondisi tersebut, ia memberanikan diri menulis permohonan bantuan melalui media sosial. Unggahan itu berisi harapan sederhana agar bisa kembali bersekolah seperti teman-temannya.
Tak disangka, pesan tersebut menyebar luas dan menarik perhatian banyak pihak, termasuk Pemerintah Kota Manado.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, Andrei Angouw bersama Richard Sualang langsung merespons dengan menyalurkan bantuan melalui perwakilan yang ditugaskan ke lapangan.
Bantuan yang diberikan mencakup kebutuhan utama sekolah seperti seragam baru, tas, sepatu, alat tulis, serta buku. Selain itu, keluarga juga menerima bantuan kebutuhan pokok berupa beras.
Penyaluran bantuan turut melibatkan BKSAUA Kota Manado sebagai bentuk kolaborasi dalam menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Keluarga siswa menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan. Bantuan tersebut menjadi titik balik bagi anak mereka untuk kembali melanjutkan pendidikan tanpa hambatan.
Kisah ini menjadi potret bahwa persoalan kecil bisa berdampak besar, sekaligus menunjukkan bagaimana kepedulian dan respons cepat mampu menghadirkan perubahan nyata.
Ikuti terus kisah inspiratif dan berita sosial lainnya hanya di tarsiusnewss.blogspot.com


